Jombang - Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Jombang, Jawa Timur, baru saja dibuka namun sudah menghadapi tantangan awal. Dalam waktu belum genap satu bulan, sudah ada satu siswa dan satu guru yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan belajar di sekolah tersebut.
Kepala Sekolah Rakyat Jombang, Andik Minarto, mengonfirmasi bahwa seorang siswa mundur karena alasan pribadi dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
"Hingga saat ini ada satu siswa yang mengundurkan diri. Alasannya karena homesick atau belum kerasan. Tapi kami masih melakukan pendekatan agar dia bisa kembali bergabung," jelas Andik pada Rabu (30/7/2025).
Tidak hanya siswa, satu guru yang merupakan aparatur sipil negara (ASN) di bawah Kementerian Agama juga memilih untuk mundur.
Guru tersebut sebelumnya mengajarkan mata pelajaran pendidikan agama Islam.
Menurut Andik, alasan pengunduran diri guru tersebut belum dapat dipastikan, karena beliau langsung mengajukan pengunduran diri.
"Beliau PNS dari Kemenag, jadi kemungkinan akan kembali ke sekolah asalnya," tambahnya.
Meski kehilangan siswa dan guru, kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat Jombang tetap berlangsung seperti biasa.
Saat ini, para siswa sedang menjalani tahap matrikulasi dan pengenalan lingkungan.
Hal ini bertujuan untuk membangun kenyamanan serta pemahaman terhadap sistem pendidikan alternatif yang ditawarkan.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang, Hari Purnomo, juga membenarkan adanya laporan tersebut.
Pihaknya telah melakukan langkah-langkah persuasif untuk mengajak siswa yang mundur agar kembali mengikuti program Sekolah Rakyat.
"Kita sudah menindaklanjuti dengan pendekatan persuasif agar siswa tersebut kembali bergabung di Sekolah Rakyat," tuturnya.
Sekolah Rakyat Terintegrasi Jombang mulai aktif sejak 14 Juli 2025. Program ini digagas sebagai solusi pendidikan alternatif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dan berbasis karakter.(lok)*
Sekolah Rakyat Jombang pengunduran diri pendidikan alternatif