Kota Malang – Di tengah meningkatnya retorika keagamaan yang sering kali mengarah pada radikalisasi, hadir sosok Ustadz Aziz, seorang pendakwah dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia memilih untuk menyebarkan pesan damai tanpa caci maki. Suaranya yang lembut namun kuat, mampu menyentuh hati banyak orang.
Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur, Agustinus Tedja Bawana, menilai Ustadz Aziz sebagai "dinding penahan" terhadap laju radikalisasi di masyarakat.
Agustinus mengatakan bahwa Ustadz Aziz tidak hanya menyuarakan nilai-nilai Islam yang penuh kasih, tetapi juga aktif membangun narasi yang menghargai keberagaman.
"Ia adalah figur langka. Dalam kesederhanaannya, ia terus menjaga Indonesia dari dalam, dengan ceramah yang menyejukkan dan pergaulan yang melampaui batas identitas," kata, Agustinus pada Selasa (16/7/2025).
Ustadz Aziz mengambil sikap berbeda di tengah kebisingan opini yang ada. Ia memilih untuk berdakwah dengan cara yang tenang, tidak memprovokasi, dan tidak mencari perhatian media.
Ia lebih memilih untuk berinteraksi dengan masyarakat secara langsung.Sebagai pendakwah NU, Ustadz Aziz sering hadir di masjid-masjid kecil dan ruang-ruang dialog antar umat beragama.
Ia menjadi rujukan bagi banyak orang karena pendekatannya yang inklusif. “Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk satu golongan,” adalah salah satu pesan yang sering ia sampaikan.
Walaupun ada kalangan yang mengkritik Ustadz Aziz dengan menyebutnya sebagai “penyimpang” atau “liberal”, ia tidak terpengaruh.
Ia tetap berpegang pada prinsip kasih dan cinta, sesuai dengan ajaran Islam dan semangat Indonesia tentang hidup dalam perbedaan.
Beberapa waktu lalu, Ustadz Aziz menjadi sasaran kritik oleh kelompok-kelompok radikal karena menolak provokasi keagamaan.
Ia tampil sebagai juru bicara gerakan Arek Malang Bersuara, yang menekankan pentingnya toleransi dan menolak kampanye yang bisa merusak keberagaman.
Meski mendapat tekanan, Ustadz Aziz tetap tersenyum dan menyampaikan pesan damai. Saat diundang untuk berbicara di hadapan Komisi A DPRD Kota Malang dan Polresta Malang Kota, ia tidak mengajak untuk membenci, tetapi untuk saling memahami.
“Kata-kata beliau bukan membakar amarah, tetapi menghangatkan hati,” tutur, Agustinus.
Dalam ceramahnya, Ustadz Aziz mengutip ayat Al-Qur’an dan Injil untuk membangun jembatan antar umat beragama.
Ia menekankan bahwa perdamaian adalah panggilan semua agama.Ustadz Aziz juga selalu mengingatkan pentingnya nilai-nilai konstitusi dan Pancasila dalam kehidupan beragama.
Ia percaya bahwa keberagaman adalah kekuatan yang diwariskan para pendiri bangsa.
“Pasal 29 UUD 1945 menjamin kebebasan beragama. Ketuhanan dan Persatuan Indonesia adalah dasar kita. Bila kita beragama tanpa mencintai sesama manusia, kita belum memahami pesan Tuhan,” terangnya.
Perjuangan Ustadz Aziz bukan hanya soal dakwah, tetapi juga tentang menjaga Indonesia sebagai "rumah bersama". Ia menolak menjadikan agama sebagai alat kekuasaan atau pemisah antar sesama.
“Meski lebih memilih jalan senyap daripada panggung besar, sosok Ustadz Aziz menjadi penting di era ketika narasi-narasi intoleran merayap ke ruang publik,” pungkas Agustinus.
Ustadz Aziz adalah sosok yang mengajarkan pentingnya toleransi dan kemanusiaan dalam beragama, sangat dibutuhkan di Kota Malang.(mul)*
Ustadz Aziz radikalisme toleransi Malang Nahdlatul Ulama