Seni Budaya - Pertunjukan tari topeng berjudul "Panji Mangu" berhasil digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur di Taman Krida Budaya, Kota Malang, pada hari Minggu, 13 Juli 2025. Acara ini menarik perhatian banyak penonton, khususnya dari kalangan generasi muda.
Pertunjukan ini mengusung pendekatan yang segar dan relevan, sehingga dapat diterima dengan baik oleh anak muda.
Dari segi gerakan tari, aransemen musik, tata panggung, hingga gaya bahasa, semuanya dikemas sesuai dengan selera anak muda masa kini.
Meskipun tampil lebih modern, pertunjukan "Panji Mangu" tetap mempertahankan keaslian cerita dari naskah Panji.
Hasilnya, ratusan penonton terlihat antusias mengikuti jalannya pertunjukan hingga akhir.
Kurator pertunjukan, Lilik Subari, menjelaskan bahwa "Panji Mangu" menampilkan kisah cinta Panji Asmorobangun yang diliputi keraguan.
Cerita ini menggambarkan dilema Panji antara memperjuangkan Dewi Sekartaji yang menghilang dan membuka hati untuk Nawangresmi, putri dari Kerajaan Ngurawan.
Dalam kisahnya, Panji Asmorobangun merasa bingung setelah kekasihnya, Dewi Sekartaji, tiba-tiba menghilang.
Dengan semangat dan tekad, Panji memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya dan memulai perjalanan mencari cinta sejatinya.
Saat menyamar di Kerajaan Ngurawan, Panji terus berusaha menemukan Sekartaji.
Ia melewati berbagai tantangan yang menguji kesetiaannya.
Di tengah perjalanan, Panji bertemu Nawangresmi, seorang putri yang mengingatkannya pada Sekartaji.
Hal ini membuat hati Panji mulai bimbang antara cinta dan keraguan.
Namun, Nawangresmi menyadari bahwa hati Panji belum sepenuhnya lepas dari masa lalunya.
Merasa kecewa, ia pun memilih untuk pergi meninggalkan istana Ngurawan.
Panji terjebak dalam keraguan: apakah ia harus mengejar cinta yang hilang atau bertahan dengan kenyataan baru yang tidak pasti?
"Mangu itu kan ragu. Jadi, cerita ini menggambarkan keraguan Panji dalam menentukan arah percintaannya antara Sekartaji dan Nawangresmi," kata, Lilik Subari, yang juga merupakan dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW).
Lilik menambahkan bahwa para penari dan pengrawit yang tampil berasal dari berbagai sanggar seni di Malang Raya dan telah menjalani proses latihan intensif selama dua bulan.
Ia juga mengungkapkan kekagumannya atas antusiasme penonton yang memenuhi arena pertunjukan.
Menurutnya, pertunjukan seni bukan hanya sekadar ajang berekspresi, tetapi juga merupakan bentuk laku spiritual bagi para pelaku seni itu sendiri.
Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari, memberikan apresiasi tinggi kepada semua pihak yang terlibat dalam pertunjukan ini.
Ia menilai bahwa "Topeng Panji Mangu" menjadi bukti kolaborasi yang baik antara seniman dan akademisi.
"STKW mengkurasi dan mengemas pertunjukan ini dengan rapi. Peran akademisi sangat penting, karena mereka bisa membagikan ilmu yang belum didapatkan di sanggar," jelasnya.
Hal serupa disampaikan oleh Suroso, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Ia mengungkapkan bahwa kehadiran akademisi dari STKW membawa peningkatan signifikan dalam kualitas pertunjukan.
"Kalau sebelumnya hanya sebatas pentas, kini naik kelas. Dengan bimbingan STKW, peningkatannya bisa dibilang 200 persen," ungkapnya.(df)*
Panji Mangu pertunjukan tari Kota Malang seni generasi muda