Kota Batu – Ketua Umum Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI), Rahmat Shah, menegaskan bahwa lembaga konservasi satwa yang dikelola oleh pihak swasta harus mandiri dan tidak bergantung pada anggaran negara.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan ke Batu Secret Zoo pada Rabu (21/5/2025). Rahmat menjelaskan bahwa keberlanjutan konservasi satwa akan lebih efektif jika dilakukan melalui kerjasama antara lembaga dan kolaborasi antara publik dan swasta, bukan melalui subsidi dari pemerintah.
“Kecuali untuk lembaga pemerintah, lembaga konservasi swasta tidak mendapatkan bantuan dari negara. Namun, kami masih bisa beroperasi dengan mengandalkan kerjasama dan kepedulian bersama,” tegas Rahmat Shah.
Menurutnya, pandangan ini mencerminkan perubahan cara berpikir dalam pengelolaan satwa di Indonesia. Konservasi tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha.
Rahmat menekankan pentingnya kemandirian operasional lembaga konservasi swasta sebagai salah satu cara untuk memastikan keberlanjutan. Ia memberikan contoh kolaborasi antara Taman Safari Pematangsiantar dan lembaga konservasi lainnya sebagai praktik yang baik.
Kerjasama antar lembaga konservasi ini membantu dalam hal pemindahan satwa, pertukaran genetik, dan peningkatan kesejahteraan satwa tanpa membebani anggaran negara. “Dengan kerja sama, satwa bisa hidup sejahtera dan berkembang biak dengan baik. Pemerintah pun tidak perlu mengeluarkan dana besar,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rahmat juga mengkritik masalah pengelolaan populasi satwa yang tidak baik di beberapa lembaga konservasi, termasuk kasus kelebihan populasi di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Menurutnya, penumpukan satwa dalam satu lokasi bisa membahayakan kelangsungan hidup mereka, baik secara genetik, fisik, maupun mental.
“Jika terlalu banyak satwa di satu tempat, bisa terjadi inbreeding (perkawinan sedarah), konflik antar-satwa, bahkan saling membunuh. Biaya pakan juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia menyarankan agar lembaga konservasi saling menjalin jaringan distribusi satwa untuk menciptakan sistem yang lebih sehat dan berkelanjutan. Hal ini tidak hanya untuk meratakan populasi, tetapi juga menjaga kualitas genetik dan kesejahteraan hewan.
Rahmat menekankan bahwa konservasi satwa bukan hanya tentang melestarikan spesies, tetapi juga mencerminkan seberapa beradabnya suatu bangsa. Ia mengkritik praktik perusakan habitat satwa dan perdagangan ilegal yang semakin menjamur.
“Kita sudah mengambil habitat mereka, maka kewajiban kita untuk merawat. Jika tidak, mereka akan punah. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang peduli pada satwa liar,” ucapnya.
Ia bahkan menyebutkan bahwa perdagangan satwa liar ilegal kini hampir sebanding dengan bisnis narkotika. Banyak pelaku usaha terlibat dalam penyelundupan demi keuntungan pribadi, seperti dalam kasus burung kakak tua dan spesies langka lainnya.
“Saya baru tahu bahwa penyelundupan satwa liar hampir setara dengan narkoba. Ribuan pelaku sudah ditangkap,” tambahnya.
Satwa yang berhasil disita biasanya dititipkan ke lembaga konservasi, tetapi tidak semuanya bisa dilepasliarkan karena telah kehilangan kemampuan bertahan hidup di alam liar.
PKBSI juga berencana membangun klinik kesehatan satwa yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Klinik ini akan menangani hewan peliharaan, termasuk satwa liar atau yang dilindungi, untuk mencegah potensi penyebaran penyakit dari hewan ke manusia.
“Banyak yang tidak sadar bahwa hewan peliharaan bisa membawa penyakit. Bahkan ada kasus burung atau kucing yang bisa mengganggu kesuburan manusia,” ujarnya.
Rahmat berharap media juga berperan dalam menyebarkan edukasi mengenai pentingnya konservasi, bahaya perdagangan ilegal satwa, dan kesehatan masyarakat. “Pelestarian satwa bukan hanya untuk menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk melindungi ekosistem dan manusia sendiri,” tambahnya.
Pendekatan mandiri dalam pengelolaan konservasi satwa oleh PKBSI menjadi alternatif realistis dalam situasi keuangan yang sulit. Kerjasama antara lembaga konservasi, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk mencapai kemandirian ini. Satwa liar adalah milik dunia dan perlu dijaga bersama.
Rahmat Shah konservasi lembaga swasta anggaran negara PKBSI